COCO: Film Animasi yang Bikin Haru :')
Beberapa hari belakangan ini saya lagi seneng-senengnya maraton film untuk sekadar
Ada nih satu film yang menurut saya sangat bagus, dan layak untuk kalian tonton, terutama yang belum nonton. Film ini begenre animasi dan sudah tayang setahun silam, tepatnya 24 november 2017. Tidak terlalu lawas lah untuk dimasukan dalam daftar film yang layak ditonton. Judul filmnya yaitu COCO (fyi* saya tertarik untuk menonton sebab skor IMDb (Internet Movies Database) mencapai 8.5 wow!)
COCO, film animasi garapan pixar ini merupakan film yang kaya akan tema serta budaya Meksiko. Ketika kalian mulai menonton dan fokus pada film ini, saya berani jamin kalian akan terbawa suasana kedalam alur cerita yang seakan akan kita itu dituntun untuk merasakan sebuah kisah kehidupan yang sedang berlangsung. Saya akui sutradara Lee Unkrich ini begitu apik dalam memanfaatkan waktu untuk membangun jalannya cerita yang menggambarkan tentang passion dan sebuah keluarga yang sangat luar biasa dengan bumbu budaya lokal yang sangat kental.
Sedikit sinopsis dalam film COCO...
Film COCO ini mengisahkan tentang seorang bocah laki umur 12 tahun yang bernama Miguel Rivera. Miguel memiliki passion dalam bermusik dan mempunyai mimpi besar untuk menjadi musikus ternama dan melegenda seperti idolanya Ernesto de la Cruz. Namun sayangnya keluarga besar Miguel mengharamkan musik karena bagi keluarga Miguel musik itu kutukan. Dulu kakek buyutnya meninggalkan nenek coco demi karir untu menjadi musikus dan membuat ibu nenek coco, Imelda, terpaksa menghidupi keluarga dengan cara membuat sepatu.
Membuat sepatu adalah warisan dari keluarga Miguel, sehingga semua sanak keluarganya bekerja sebagai pembuat sepatu dan Miguel diharapkan juga seperti itu. Tidak ada yang namanya musik, jangan sampai Miguel mengikuti jejak kakek buyutnya yang lupa dengan keluarga. Diam-diam Miguel mempunyai markas rahasia yang dia pakai untuk memajang foto de la Cruz. Di ruangan itu pula Miguel secara otodidak belajar bermusik, mulai dari bernyanyi hingga bermain gitar dengan menonton video musik lama milik de la Cruz.
Keinginan Miguel menjadi seorang musikus sudah memuncak. Tepat pada perayaan Hari Orang Mati, dia mencuri sebuah gitar dari makam de la Cruz untuk mengikuti audisi. Namun anehnya Miguel malah tersesat di dunia orang mati. Satu-satunya jalan untuk Miguel untuk bisa kembali ke dunia orang hidup yaitu Miguel harus mendapatkan restu dari keluarganya yang sudah meninggal. Banyak hal yang terjadi pada Miguel saat di Land of the Death ketika dia ingin meminta restu kepada keluarganya yang sudah mati, sembari mencari cara agar bisa tetap bermusik tanpa harus membuat keluarganya kecewa ataupun sakit hati.
.......
Jalan cerita dan sinematografi yang ciamik...
Tidak hanya soal jalan cerita yang begitu apik dalam film ini penggambaran tokoh serta latar tempat seperti jalanan dan sudut-sudut kota disajikan dengan sangat detail bahkan terlihat seperti nyata. Bisa dibilang seperti foto hidup karena hasil yang begitu rapi dan detailnya. Perlu kalian ketahui bahwa film ini juga bercerita tentang kematian beserta alamnya. Bayangan kita tentang alam kematian pasti identik dengan suasana sepi dan sunyi, tapi tidak bagi film ini. Alam kematian digambarkan begitu berwarna dan meriah. Penampakan orang mati pun yang harusnya seram juga dibuat lucu dan menghibur.
Film ini juga berkisah tetang musik, sebab pemeran utama memiliki passion bermusik yang luar biasa dengan mimpi yang luar biasa juga yaitu menjadi musikus legenda seperti idolanya. Jadi jangan heran jika ada beberapa scene yang menyajikan lagu latin gaya khas meksiko. Lagunya sangat enak didengar apalagi ditambah dengan genjrengan gitar membuat semuanya menjadi sangat catchy.
Jika ada yang menyebut film animasi hanya cocok dinikmati kaum bocah, anda salah. Film COCO memang bergenre animasi tapi bukan berarti yang layak nonton hanya anak-anak. Ada beberapa nilai dan pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini khususnya orang dewasa, seperti diceritakan diawal bahwa film ini juga bercerita tentang keluarga, bukan hanya sekadar nyanyian dan tarian lucu para tengkorak di alam kematian yang membuat bocah ketawa pada film ini.
Mexico dan Kematian...
Ada apa meksiko dengan kematian? Dia de los Muertos meupakan salah satu hari libur nasional yaang bertujuan untuk mengenang orang yang sudah meninggal. Pada hari itu masyarakat Meksiko percaya bahwa keluarga yang sudah meninggal akan mendatangi kerabatnya yang masih hidup, dengan catatan asal dia masih diingat. Masyarakat Meksiko percaya bahwa orang yang mati tidak benar benar pergi, sampai tidak ada yang mengenangnya lagi. Dalam sebuah adegan pada film ini juga mengisahkan orang mati, seorang tengkorak bernama Hector yang membantu Miguel untuk bisa kembali ke dunia orang hidup karena dia ingin memasang fotonya dirumahnya, supaya keluarganya dapat mengingatnya dan Hector tidak akan benar-benar mati dan menghilang.
Selain Hector, kita juga akan dilihatkan seorang tengkorak tua yang sedirian terbaring diatas ranjang gantungnya yang megalami kematian kedua. Dia benar-benar mati dan kemudian menghilang selamanya, karena dia tidak punya apa-apa yang bisa membuat dia dikenang oleh keluarga ataupun orang lain.
Kematian abadi bukanlah saat ruh berpisah dengan jiwa, namun saat semua orang sudah lupa. Kenangan kita atas orang-orang yang meninggal akan membuat mereka yang kita cintai bisa tetap hidup, meski usia mereka sudah lama tertutup.
Ada "sesuatu" dalam film COCO...
Entah saya sendiri atau juga kalian yang jeli dan fokus pada film ini terasa menyiratkan bahwa seseorang bisa abadi melalui sebuah karya yang dihasilkan. Karya tersebut yang membuat seseoarang akan terus diingat meski penciptanya sudah lama meniggal. Bisa dilihat dalam film ini, Ernesto de la Cruz yang masih dipuja-puja bak dewa di dunia kematian karen lagunya yang terkenal. Berkarya lewat seni memang bagus, namun yang menjadi "buruk" di film ini terlihat seperti tidak ada konsep baik atau buruk. Tidak penting hasil karya tersebut dari hasil curian, bersikap jahat dan membunh orang lain.Jika karya tersebut terkenal dan membuat orang banyak mengingat, menyebut nama, dan memasang foto kita, kita akan hidup bagai di surga dalam dunia kematian seperti yang digambarkan pada film ini.
Hidup sebagai orang jujur dan juga baik hati akan menjadi sia sia jika semasa hidup hanya menjadi orang biasa saja, tidak ada karya, atau sesuatu yang bisa membuat terkenal. Orang semacam itu hanya perlu menunggu untuk benar-benar merasakan kematian yang abadi ketika semua orang sudah mulai melupakannya. Kebaikan itu mudah dilupakan, namun karya itu yang membuat bisa abadi di dunia kematian. Seperti yang saya ceritakan nasib tengkorak tua yang benar-benar mati ketika semua orang sudah melupakannya.
Berkarya, sukses, dan jika kemudian hari mati bisa hidup dalam dunia kematian yang abadi. Jika benar demikian, tentunya sangat riskan bila film ini ditelan mentah-mentah oleh kita terlebih lagi pada anak anak. Bayangkan saja kita hidup dimana masa banyak banget video yang viral, baik di youtube, instgram, atau media sosial lain. Tidak peduli baik atau buruknya, yang penting bisa viral, terkenal, dan sukses lewat video viral yang mereka sebut sebagai karya. Jangan samapai viral dan terkenal dijadikan prioritas hidup, dibanding dengan melakukan kebaikan pada hal lain.
Ada yang lebih penting dari sekedar viral, sukses, dan terkenal. Apa? yaitu Keluarga.
Keluarga beserta restunya itu hal yang perlu ditanamkan pada siapapun yang menonton film ini terlebih lagi pada adek-adek kita.
Karena...... harta yang paling berharga adalahharta bendaKeluarga :)




No comments: